My dad’s story : Dream for My Child

Advertisements

Singapore Inspiration Drama


Integrity


NEW YEAR, NEW POSITIVE(S)

MAA – Tahun baru… What do you expect in New Year?

Banyak orang bilang tahun baru adalah tahun perubahan, tahun dimana kita bisa melakukan hal – hal baru di dalam hidup maupun memperbaiki hal – hal yang telah dilakukan di tahun sebelumnya. Tapi terkadang kita terlalu berorientasi terhadap ‘apa yang akan kita lakukan mendatang?’ tanpa memikirkan ‘apa yang telah kita perbuat di tahun sebelumnya?’. Saya mengibaratkan “Future tells the story of the past”, yaitu apapun masa depan yang kamu inginkan dan harapkan selalu terdapat masa lalu yang menjadi bagian dari masa depan mu. So, it’s time to change the game!

Learn your mistakes and evaluate. Hal pertama yang seharusnya kamu persiapkan untuk melakukan perubahan di tahun baru adalah mempelajari kesalahan-kesalahanmu dan evaluasilah. Kesalahan bukan berarti losing your pride tetapi berbuat salah di dalam hidup adalah pedoman untuk melakukan kebenaran di kesempatan mendatang. Still remember what your teachers said in class “don’t be afraid of making mistakes because they don’t fail yourself?”

Rebuild your pride. Inilah hal kedua yang dapat memberikan dampak positif untuk kehidupan kamu di tahun baru. ‘Dunia tidak ingin tahu jika kamu tidak memberi tahu,’ mungkin kalimat tersebut bisa merepresentasikan bagaimana seharusnya kita bangga terhadap apa yang telah kita lakukan, bahkan hal sekecil apapun. Bangga, karena satu tahun adalah waktu yang panjang untuk memberikan warna pada kehidupan sehari-hari yang telah kita lalui. Bangunlah kembali kebanggaanmu dan biarkan dunia menyaksikan itu!

Dream and make it happen. Hal ketiga untuk memberikan perubahan positif untuk diri mu di tahun baru adalah teruslah bermimpi dan wujudkanlah menjadi nyata. “They laughed on your dream but they didn’t know how competence you are to make it real”. Terkadang kita menertawakan diri sendiri karena terus bermimpi yang tidak mungkin terwujud atau menertawakan mimpi orang lain yang karena bernasib sama dengan mimpi kita. Hal inilah yang membuat akhirnya kita berhenti sebelum memulai merealisasikan mimpi tersebut. If Alexander Graham Bell didn’t dream to make a phone, our generations would be deaf in practice communication. Setiap langkah kecil untuk merealisasikan mimpi mu adalah kebanggaan yang akan kamu ceritakan kepada anak cucu mu kelak. So, Dream on!


Saya gagal, Saya bangkit, Saya belajar

Banyak masalah yang hadir menerpa aktivitas – aktivitas harian kita, entah masalah karier, persahabatan, percintaan, keluarga, kesehatan, dan juga yang lainnya. Umumnya kita  menilai bahwa masalah yang ada layaknya bongkahan es yang menutup rapat jalan kita menuju sebuah pencapaian, atau secara tidak langsung sebagai sebuah awal dari kegagalan.

Apakah anda juga berfikir seperti itu?

Sebelum lebih jauh, saya ingin menanyakan apa definisi kegagalan menurut anda. Karena apa? Karena sudut pandang andalah yang akan menentukan sejauh mana anda menilai sebuah masalah menjadi awal sebuah kegagalan atau sebuah pembelajaran. Saya banyak belajar makna kegagalan dari kisah seorang Steve Jobs, Ia lulus dari SMA Homestead di California dan diterima di Reed College di Portland, Oregon, tapi drop out setelah satu semester. Di tahun 1976, Jobs, usia 21, dan Wozniak, 26, mendirikan Apple Computer Co. di garasi milik keluarga Jobs. Di tahun 1980, Apple Computer mencatatkan namanya di bursa efek, dan dengan penawaran saham awal yang sukses, ketenaran Jobs bertambah. Di tahun 1985, setelah banyak menyebabkan masalah kepemimpinan di dalam Apple, Jobs di usir dari jabatannya. Setelah keluar dari Apple, Jobs mendirikan sebuah perusahaan komputer lagi, NeXT Computer. Dengan kerja keras dan kegigihannya NeXT berkembang dan tahun 1996, Apple membeli NeXT seharga AS$402 juta, dan membawa Jobs kembali ke perusahaan yang ia dirikan. Di tahun 1998 ia kembali menjadi pemimpin di Apple. Dan hingga saat ini Apple telah menjadi perusahaan besar yang mendunia dengan salah satu produknya iPod portable music player.

Dari situ saya menilai bahwa selama ini ada kekeliruan terhadap cara pandang seseorang terhadap kegagalan itu sendiri. mereka hanya melihat suatu sisi bahwa gagal sama dengan tidak berhasil. Tetapi lupa bahwa ada sisi lain dari ketidak berhasilan, ada suatu kesempatan untuk bisa lebih berhasil. Kegagalan seharusnya dapat dijadikan sebuah pembelajaran bagi kita untuk lebih maju ke depan. Karena apa? Karena kita telah mengetahui faktor – faktor yang membuat kita gagal. Sehingga tidaklah mungkin bagi sesorang untuk mengulangi kesalahan yang sama bila ingin berhasil dalam mencapai sebuah pencapaian. Jadi bangkitlah dari kegagalan dan ayo mulai belajar dari sebuah kegagalan.


Generasi Hijau Indonesia

 

Dulu, Indonesia dikenal banyak orang sebagai negeri yang subur. Negeri puluhan ribu pulau yang membentang di sepanjang garis khatulistiwa yang diasumsikan sebagai zamrud berkilau yang membuat rakyat nya merasa tenang, nyaman, damai, dan makmur. Namun seiring berkembangnya waktu, negeri ini seakan tak lagi nyaman untuk dihuni. Tanahnya yang gersang dan tandus, iklim yang semakin tidak menentu, dan polusi yang terus merajalela. Yang lebih menyedihkan lagi, dari tahun ke tahun, Indonesia terus menuai bencana, sebut saja banjir bandang, tanah longsor, tsunami dan kekeringan yang seolah olah terus dan akan terus terjadi. Sementara itu pembalakan dan pembakaran hutan, penebangan liar, bahkan juga illegal loging (nyaris) tak pernah luput dari agenda para perusak lingkungan. Ironis nya mereka seakan menutup mata akan nasib negeri ini dimasa yang akan datang, mereka tidak tahu menahu soal dampak yang akan terjadi pada negeri ini secara khusus, dan pada planet tempat tinggal umat manusia secara umum  apabila sudah tidak ada lagi keharmonisan antara manusia dengan lingkungan.

Saat ini agaknya sulit menemukan tanah yang nyaman bagi tanaman untuk tumbuh dengan subur dan lebat di kota kota besar di negeri ini. Mereka hanya menyisakan celah celah tanah yang gersang, tandus, dan gersang. Di pelosok-pelosok dusun, berhektar-hektar hutan telah gundul, terbakar, dan terbabat habis sehingga tak ada lagi tempat untuk resapan air. Dunia kota pun seolah tak mau kalah dengan keadaan di pelosok, mereka membangun ratusan atau bahkan ribuan cerobong asap demi mendapatkan keuntungan yang tanpa tahu apa dampaknya bagi bumi ini. Polusi tanah, air, dan udara benar benar telah mengepung masyarakat perkotaan sehingga tidak ada lagi celah untuk hidup bebas.

Memang harus ada respon dan penanganan serius untuk membudayakan cinta lingkungan hidup. Dan yang tak kalah penting butuh lebih dari sekedar niat. Dibutuhkan sikap kontribusif pada lingkungan sehingga diharapkan dapat memperbaiki keadaan negeri ini. Kontribusif tidak hanya dengan melakukan suatu hal yang besar, perlakukanlah semua dari hal yang kecil dan mudah terjangkau.

Budaya “tidak hijau” seakan sudah mendarah daging pada manusia negeri ini. Tidak adanya pendidikan lingkungan sejak dini dan perilaku orang orang disekitar yang tidak memiliki budaya cinta lingkungan tidak dapat dipungkiri menjadi faktor utama lemahnya kesadaran lingkungan di Indonesia. Dibutuhkan gunting besi pemutus rantai “tidak hijau” di negeri ini. Tidak ada hal lain yang bisa menjadi besi pemutus rantai tersebut selain kami – para generasi muda hijau Indonesia.

Memang tidak mudah untuk menangani hal-hal yang menjadi permasalahan vital seperti ini. Dibutuhkan kerjasama banyak pihak untuk menanganinya. Dalam buku “The Personal Efficiency Program” yang ditulis oleh Kerry Gleeson dapat menjadi pembelajaran bagi para manusia dalam menerapkan penanganan masalah lingkungan saat ini. Tidak ada yang rugi kalau kita mau dan ikhlas untuk turun tangan membantu penanganan masalah lingkungan. Sekarang saatnya kita memikirkan solusi-solusi dan pemecahan masalah untuk menangani problematika lingkungan hidup yang sedang kita hadapi. Seperti yang saya utarakan di paragraf sebelumnya bahwa kita membutuhkan para generasi hijau yang mampu mendedikasikan diri untuk berperan serta membenahi masalah ini. Sebagai seorang mahasiswa, salah satu peran yang dapat didedikaikan untuk masalah ini ialah dengan melakukan penelitian-penelitian bidang lingkungan dan energi alternatif, sehingga tercipta solusi-solusi yang selanjutanya dapat diaplikasikan dalam menyelesaikan masalah ini. Lebih jauh lagi, sebuah organisasi kampus harus bisa menjadi fasilitator dalam ikut serta menyelesaikan masalah ini. Peran aktif para generasi hijau dalam organisasi tersebut harus ikut ambil bagian dalam menyuarakan pentingnya Indonesia hijau. Penerapan Program Kerja berbasis lingkungan oleh lembaga eksekutif kampus (BEM) harus teraplikasikan dengan terciptanya pola pikir, pengetahuan dan perilaku mahasiswa dalam melihat permasalahan lingkungan. Penyuluhan maupun seminar pengolahan sampah yang diltujukan untuk masyarakat awam sangatlah potensial untuk dilakukan, mereka yang selama ini terkesan masih tradisional dalam proses pengolahan sampah diharapkan dapat lebih membuat sampah menjadi produk yang lebih bernilai demi menambah pemasukan ekonomi mereka.


Underestimated pada Diri Sendiri

Percaya gak kalo sikap underestimate terhadap diri sendiri bisa mengakibatkan kita kehilangan banyak kesempatan dalam banyak hal?

Menurut saya akan banyak kesempatan yang hilang hanya karena kita selalu underestimate terhadap diri kita sendiri. Salah satunya adalah kesempatan untuk berprestasi dalam segala bidang.

Underestimate terhadap diri sendiri sebenernya bisa menjadi penyakit yang membuat kita sulit untuk melangkah, hilang kepercayaan diri dan yang pasti gak berani dalam bersikap. Bayangkan bila sebenarnya kita memiliki sebuah potensi yang memang belum terasah, dan karena suatu momen kegagalan, kita menganggap bahwa potensi tersebut hanyalah sebuah “potensi kebetulan” pada diri kita. Tentu kita akan mengabaikan potensi tersebut.

Namun bayangkan juga ketika kita melewati momen kegagalan tersebut dengan bangkit penuh percaya diri, evaluasi diri dan mencobanya kembali. Tentu kita akan lebih mengasah potensi tersebut.

Lalu bagaimana cara menghilangkan underestimate tersebut? Sebenarnya gampang!

Percayalah bahwa kita diciptakan Tuhan sebagai makhluk sejuta potensi yang siap berkarya di bumi ini. Jadikan kekurangan sebagai modal untuk menunjukkan kelebihan pada diri. See You On Top